시안
Minggu, 10 April 2022
Hi, it's been a while...
Sabtu, 16 Februari 2019
Another Day
Sudah lama juga aku tidak menulis ya,
Kamu pasti tau hari-hari dimana aku menulis itu karena suasana hatiku sedang tidak baik
Maka turut sedihlah karena aku mulai menulis lagi,
Ya.... Suasana hatiku sedang sangat tidak baik
Aku menangis seharian
Mataku bengkak
Kenapa?
Sepele sih mungkin,
Senja baru saja pergi
Bukan pergi untuk selamanya,
Dalam hitungan bulan ia akan segera kembali
Lalu kenapa aku harus bersedih seperti ini?
Mungkin aku hanya rindu,
Rindu untuk melihat wajahnya, tersenyum menyapaku diatas motornya didepan rumahku
Rindu untuk memeluk hangat tubuhnya
Rindu akan jemarinya yang mengusap lembut kepalaku
Rindu untuk ngobrol ngalor ngidul sambil menikmati angin malam kota Bandung
Memang cuma dia yang tidak pernah lelah untuk mendengar semua omonganku yang selalu ga jelas ini
Memang cuma dia yang setia meladeni keluh kesahku yang tidak pernah ada ujungnya
Memang cuma dia yang tertawa ketika mendengarku meracau tentang hal-hal sepele
Sekarang hujan turun lagi
Aku rindu
Aku sangat rindu
Baru berjalan 2 jam dari terakhir kali aku mendengar suaranya
Aku sudah sangat rindu
Kadang bisa sangat berlebihan kan?
Sabtu, 18 November 2017
di suatu tempat yang tidak bisa kucari
Aku mulai menulis lagi...
Masih ingat terakhir kali aku menulis?
Aku menulis dan meminta kamu untuk membacanya
Tanggapanmu sederhana,
"Aku tidak paham apa maksud kata-kata puitismu,"
Kecewa menyelimuti ragaku,
Saat itu aku hanya diam membeku, dan tersenyum
"Ini bukan sesuatu yang harus kamu pahami,"
Kataku berusaha menenangkan, lalu kamu kembali larut dengan pikiranmu, duniamu.
Aku sangat paham, betapa besar keinginanmu untuk meraih semua cita-cita dan memenuhi harapan-harapanmu
Aku sangat paham, betapa inginnya kamu membuat kedua orangtuamu tersenyum lebar dengan semua pencapaianmu
Aku sangat paham, betapa besar keinginanmu untuk membuat orang-orang disekelilingmu tersenyum bangga akan dirimu
Keinginanmu untuk berdiri tegak di puncak tertinggi
Keinginanmu untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik
Salahku karena egoisku mencoba menahanmu dari semua keinginan terbaikmu
Wajar, akhirnya kamu memberontak dan meminta aku untuk melepaskan genggaman tanganku
Salahku karena biarpun aku sadar telah membuatmu tak nyaman, aku malah makin menggenggamu sekuat-kuatnya
Wajar, akhirnya kamu membiarkan aku melakukan apapun padamu
Yang penting, kamu tidak peduli lagi dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi
Salah satunya, mati rasa
Saat kedua dari kita sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa
Kecuali sakit yang timbul dari genggaman yang terlalu kuat.
Bandung, November 2017
Selasa, 23 Mei 2017
Distance
Aku tidak pernah peduli, sejauh apapun kamu pergi aku selalu yakin kamu akan selalu kembali padaku
Sehingga saat untuk pertama kalinya kamu bilang kamu akan pergi jauh, aku tidak begitu terkejut karena selalu, aku yakin bahwa kamu akan kembali
Namun, aku melupakan satu hal yang sebenarnya selalu berkaitan erat dengan yang namanya jarak, yang kita tau itu adalah waktu
Si pemegang kekuasaan paling besar, yang selalu mengontrol segala sesuatunya tanpa pernah kita sadari
Satu hari...
Dua hari...
Tiga hari...
Empat hari...
Sampai akhirnya tiga bulan berlalu sejak kepergian sementaramu
Tidak ada kamu lagi di hari-hariku, lalu aku semakin menyadari, ada rindu yang terselip disetiap langkahku
Dan ketika aku semakin menyadarinya, rindu itu sudah seluas langit, seberat jutaan tumpukan jerami
Yang semuanya terlihat sangat kecil, namun akan menjadi beban ketika dirasakan
Saat itu, mungkin aku kewalahan untuk menghadapinya
Tak bisakah kamu bayangkan berapa banyak malam yang aku lalui bersama dengan tangisan?
Tak bisakah kamu bayangkan berapa berat beban yang aku rasakan bergumul di dada, mengakibatkan sesak yang sangat hebat?
Hingga akhirnya, aku terbiasa dengan kesakitan-kesakitan ini
Sabtu, 15 April 2017
Senja
Sesimpel karena biasanya pertemuan kita adalah saat hari mulai gelap, saat gurat-gurat kemerahan itu mewarnai langit yang tidak lagi biru
Saat itu aku mulai mengagumi senja, dan memanggilmu sebagai senja, karena kamu adalah orang yang paling aku suka
Bahkan ketika aku bilang aku mulai jenuh pada warna-warni itu, nyatanya aku selalu kembali dan jatuh cinta pada setiap senti garisnya
Aku suka kamu
Tidak peduli seburuk apa kamu mencoba untuk mendeskripsikan dirimu
Aku tetap suka kamu
Tidak peduli seburuk apa kamu mencoba bersikap
Aku tetap suka kamu
Dan bahkan ketika datang hari dimana aku ingin sekali berhenti menyukaimu
Aku selalu kembali menyukaimu
Hingga aku jatuh cinta pada setiap yang ada pada dirimu
Kepribadianmu, senyummu, bahkan pada sisi terburuk didirimu
Sampai saat ini, kamu masih senja buatku
Dimanapun kamu berada, warnamu masih tetap sama
Dan aku masih tetap menyukainya
Rabu, 12 April 2017
Betrayal
Bukan suatu topik yang sepele kan?
Ketika dibuat kecewa oleh sebuah kata pengkhianatan, rasanya sulit untuk sekedar mencoba beramah-tamah saja.
6 tahun? Bisa kamu bayangkan apa saja yang sudah kita lewati?
Pengkhianatan adalah salah satu hal yang tidak bisa kita hindari.
Bahkan ketika kita menolak untuk mengakuinya.
Aku rasa sangat tidak pantas apabila aku membahas kejadian-kejadian lalu itu.
Tapi akuilah, tidak mudah untuk memaafkan semua kejadian itu bukan? Tidaklah mudah juga untuk sekedar melupakannya, karena semuanya sudah tercatat dan terekam rapi dalam memori kita.
Ribuan maaf diucap pun rasanya akan hanya jadi hal yang sia-sia dan percuma saja.
Tidak akan pernah bisa merubah apapun.
Meskipun sebisa mungkin kita memaafkan semuanya, tapi bukanlah hal yang mudah untuk menyembuhkan lukanya.
Yang bahkan, luka itu kini berbekas dan akan selalu menjadi bagian dari hidupmu.
Roses
16 tahun.
Bunga mawar merah pertama, kudapatkan di usia 16 tahun.
Saat itu, untuk suatu alasan, kamu datang membawa dua tangkai bunga mawar merah, dan beberapa batang coklat.
Terkesan? Tentu saja, selama 2 tahun menjalani hubungan bersamamu, belum pernah aku mendapatkan sebuah kado ataupun hadiah.
Munafik, kalau aku bilang aku tidak pernah mengharapkan hadiah apa-apa darimu, namun aku tidak pernah menunjukkannya karena selama ini dengan kehadiranmu pada tiap hari-hariku sudah sangat cukup untuk mengisi harapan-harapanku itu.
Bunga mawar merah pertama, kudapatkan sebagai simbol permintaan maaf darimu, untuk suatu hal yang sangat sepele, ya, aku selalu membesar-besarkan hal kecil bukan?
Saat itu kamu sangat bersungguh-sungguh menyampaikan permintaan maafmu, setengah menangis kurasa, mau tau? melihat kamu begitu, malah bikin aku jadi sakit hati, aku jahat karena sudah membuatmu begitu hanya karena suatu hal yang tidak perlu diperdebatkan. aku memaafkanmu. walaupun aku sadar seharusnya kamu tidak perlu minta maaf.
Aku menyimpan bunga mawar itu pada botol berisi air, dan membiarkan mereka menghiasi sudut kamarku, hingga akhirnya mereka mekar kemudian layu dan mengering, tahukah kamu betapa kesalnya aku karena aku harus membuang bunga-bunga itu pada akhirnya?
Setelahnya, perdebatan-perdebatan sepele selalu diakhiri dengan bunga mawar, bertangkai-tangkai bunga mawar darimu mekar, layu dan mengering di sudut kamar yang sama dan botol yang sama. Sampai mungkin romansa itu semakin terasa hambar,
"Aku lagi gapunya uang buat beliin kamu bunga,"
Kalimat simpel yang keluar dari mulutmu saat kita mulai berdebat lagi, saat itu aku langsung diam,
"Aku ga minta bunga kok," kataku pelan,
I found it kinda funny, semenjak kapan kita berdebat hanya agar kamu membelikanku bunga?
Entah kapan bunga terakhir darimu layu dan mengering.
Tapi, hingga saat ini, botol itu selalu kosong.