Sabtu, 18 November 2017

Teruntuk senja,
di suatu tempat yang tidak bisa kucari
Aku mulai menulis lagi...
Masih ingat terakhir kali aku menulis?
Aku menulis dan meminta kamu untuk membacanya
Tanggapanmu sederhana,
"Aku tidak paham apa maksud kata-kata puitismu,"
Kecewa menyelimuti ragaku,
Saat itu aku hanya diam membeku, dan tersenyum
"Ini bukan sesuatu yang harus kamu pahami,"
Kataku berusaha menenangkan, lalu kamu kembali larut dengan pikiranmu, duniamu.
Aku sangat paham, betapa besar keinginanmu untuk meraih semua cita-cita dan memenuhi harapan-harapanmu
Aku sangat paham, betapa inginnya kamu membuat kedua orangtuamu tersenyum lebar dengan semua pencapaianmu
Aku sangat paham, betapa besar keinginanmu untuk membuat orang-orang disekelilingmu tersenyum bangga akan dirimu
Keinginanmu untuk berdiri tegak di puncak tertinggi
Keinginanmu untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik
Salahku karena egoisku mencoba menahanmu dari semua keinginan terbaikmu
Wajar, akhirnya kamu memberontak dan meminta aku untuk melepaskan genggaman tanganku
Salahku karena biarpun aku sadar telah membuatmu tak nyaman, aku malah makin menggenggamu sekuat-kuatnya
Wajar, akhirnya kamu membiarkan aku melakukan apapun padamu
Yang penting, kamu tidak peduli lagi dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi
Salah satunya, mati rasa
Saat kedua dari kita sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa
Kecuali sakit yang timbul dari genggaman yang terlalu kuat.


Bandung, November 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar