Sabtu, 07 Januari 2017

Dandelion, Angin dan Senja Terakhir

ia merebahkan badan menikmati angin ditengah ladang bunga dandelion
kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang senja yang sudah seribu tahun menemaninya
namun, akhir-akhir ini tidak seperti biasa dirasanya
banyak hal-hal yang berbeda
senja tidak lagi terasa hangat seperti seribu tahun sebelumnya
senja tidak lagi setulus seribu tahun sebelumnya
dari seribu pertanyaan yang terus berputar dikepalanya
kemudian hanya satu kata yang terlontarkan
"mengapa?"
lalu angin berbisik pada satu dandelion
"semua hanya masalah waktu"
setelahnya satu persatu pucuk dandelion berterbangan mengikuti angin meninggalkan ladang
pucuk-pucuk yang terbang tidak pernah kembali
setelah itu senja tetap membisu
tidak satupun pertanyaan dijawabnya
tidaklah pula ia menjadi senja yang tulus dan hangat seperti seribu tahun sebelumnya
seolah senja membiarkan ia terus menunggu
seolah senja membiarkan ia tenggelam oleh dinginnya malam
seolah senja ingin berhenti menjadi senja
"apakah aku harus berhenti memanggilmu senja?"
ia menggelengkan kepala perlahan
"masih ada seribu dandelion", pikirnya
seolah harapan-harapannya yang digantungkan pada langit akan segera terjawab oleh waktu
persis seperti bisikan angin tiap kali ia membawa pergi pucuk dandelion-dandelion itu
tapi...
sampai kapan ia akan terus menunggu waktu?
sampai kapan ia akan terus bertahan pada seribu dandelion terakhir?
sampai kapan ia harus menunggu senja menjawab seribu pertanyaannya?
dan...
saat dandelion terakhir berterbangan
akankah itu menjadi senja yang terakhir pula baginya?




Januari, 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar