Apa yang lebih sakit daripada melepaskan mimpi?
Entahlah, pasti masih ada sejuta hal yang lebih menyakitkan daripada apa yang sedang aku alami akhir-akhir ini, tapi setidaknya biarlah aku menikmati sakit ini dulu.
Aku masih sering bertanya-tanya, apakah salah seorang seperti aku mengharapkan semesta yang tak pernah berujung? Meski kadang aku berkaca lewat orang-orang disekitarku, seringkali mereka mengeluh tentang apa yang mereka miliki, yang pada dasarnya itulah mimpiku.
Kadang aku tersenyum dan bergumam, ya inilah alasan mengapa Tuhan membiarkan aku menunggu dan bekerja keras lagi, tapi terkadang ketika dalam diam dan hanya ditemani hembusan nafasku saja, ada perih yang teramat sangat, aku harus menghadapi kenyataannya, terjebak pada pertanyaan apakah ini takdir ataukah aku belum bekerja keras sama sekali? Apakah aku harus berhenti dan menyerah pada keadaan atau aku harus terus memperjuangkannya?
Aku sadar bahwa impianku belum tentu yang terbaik untukku, tapi apakah aku harus menyerah pada kebelumtentuan itu dan bersikap lebih realistis? Ataukah aku harus mencari tau tentang kebelumtentuan itu dan bersiap menghadapi seribu macam resiko yang pasti akan kuhadapi?
Seringkali aku berdoa meminta jawaban, dan seringkali aku merasa akhirnya Tuhan memberi jawaban, tapi seringkali pula aku merasa ragu akan kemungkinan itu adalah jawabannya.
Aku terus dihantui ragu dan ragu, bahkan dalam doaku terselip keraguan pada apa yang aku ucapkan.
Ya Tuhan, bantu aku lepas dari segala kebimbangan dan ragu ini.
Entahlah, pasti masih ada sejuta hal yang lebih menyakitkan daripada apa yang sedang aku alami akhir-akhir ini, tapi setidaknya biarlah aku menikmati sakit ini dulu.
Aku masih sering bertanya-tanya, apakah salah seorang seperti aku mengharapkan semesta yang tak pernah berujung? Meski kadang aku berkaca lewat orang-orang disekitarku, seringkali mereka mengeluh tentang apa yang mereka miliki, yang pada dasarnya itulah mimpiku.
Kadang aku tersenyum dan bergumam, ya inilah alasan mengapa Tuhan membiarkan aku menunggu dan bekerja keras lagi, tapi terkadang ketika dalam diam dan hanya ditemani hembusan nafasku saja, ada perih yang teramat sangat, aku harus menghadapi kenyataannya, terjebak pada pertanyaan apakah ini takdir ataukah aku belum bekerja keras sama sekali? Apakah aku harus berhenti dan menyerah pada keadaan atau aku harus terus memperjuangkannya?
Aku sadar bahwa impianku belum tentu yang terbaik untukku, tapi apakah aku harus menyerah pada kebelumtentuan itu dan bersikap lebih realistis? Ataukah aku harus mencari tau tentang kebelumtentuan itu dan bersiap menghadapi seribu macam resiko yang pasti akan kuhadapi?
Seringkali aku berdoa meminta jawaban, dan seringkali aku merasa akhirnya Tuhan memberi jawaban, tapi seringkali pula aku merasa ragu akan kemungkinan itu adalah jawabannya.
Aku terus dihantui ragu dan ragu, bahkan dalam doaku terselip keraguan pada apa yang aku ucapkan.
Ya Tuhan, bantu aku lepas dari segala kebimbangan dan ragu ini.
Kren
BalasHapusmakasih😄
Hapus