Kamis, 08 September 2016

Langit senja semakin hari semakin memudar
Entah pudarnya untuk sementara atau mungkin menuju selamanya
Setiap aku menutup mata ada rasa sakit yang entah untuk apa sakit ini
Aku hanya terus menyibukan diriku untuk menghindari "kesadaran" akan terus memudarnya warna-warni itu
Baru seminggu, tapi rasanya dia sudah terlalu jauh untuk kulihat
Hai senja, tidakkah kau rindu untuk menyambut malam?
Tidakkah kau rindu akan kelap-kelip lampu di perkotaan yang selalu mengagumkan itu?
Tidakkah kau rindu akan hangatnya angin sore yang selalu memelukmu?
Tidakkah kau merindukan aku?
Satu minggu dari empat tahun ini rasanya seperti satu hari dari seribu tahun
Dan kesibukkanmu akan langit barumu begitu menyiksa bagi bumi yang mulai lelah untuk berputar mengejar waktu
Hai senja, apakah aku harus berhenti menunggu kembalinya dirimu?
Hai senja, apakah mungkin bagimu untuk benar-benar kembali mengguratkan warna pada hari-hariku?
Hai senja, apakah warna-warnimu masih tetap hanya untukku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar