Petir terus bergemuruh memintaku untuk segera berlari pulang
Tidak,
Aku tidak akan kalah kali ini
Aku tidak akan bersembunyi lagi
Aku akan menghadapinya
Ayo kita lihat, sakit macam apa lagi yang akan ditawarkannya?
Luka seperti apa yang akan dilukisnya kali ini?
Aku semakin terbiasa menghadapi perih
Mungkin aku akan tetap berdiri tegak bila sebilah pisau menancap perutku saat ini
Asam-garam? Apa yang kamu ketahui tentang itu? Hidup punya lebih dari sekedar asam dan garam saja!
Tetesan air yang pertama menyentuh hidungku
Dia datang...
Aku telah menantinya sejak tadi, bersama dengan para pencintanya yang menyebut diri sebagai pluviophile...
Pluviophile?
Pencinta hujan? Yang benar saja!
Kau bilang kau suka hujan, tapi kau berteduh ketika hujan datang
Kau bilang kau menikmati saat-saat hujan turun, tapi kau takut kebasahan
Pluviophile?
Kau hanya ingin terlihat romantis!
Pluviophile?
Kau hanya ingin disebut puitis!
Pencitraan...
Kini butir-butir itu berlipat ganda
Menghujam tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki
Berkali-kali
Aku menatap langit, membentangkan tanganku, membiarkan air hujan menciptakan sensasi yang akan selalu kuingat
Dimana rasa perih, amarah dan puas bercampur menjadi satu
Aku berlutut, seiring dengan semakin derasnya butiran-butiran hujan
Aku jatuh, dan hujan semakin bebas membasahi tiap inci tubuhku
Aku menutup mata, dan bayangan-bayangan itu muncul lagi
Kenangan-kenangan yang selama ini kusimpan rapat di alam bawah sadarku
Aku berusaha melupakan semuanya, namun memori-memori itu tak pernah benar-benar pergi
Mereka hanya sembunyi, menunggu hujan datang untuk membawaku kembali pada saat-saat itu
Aku benci hujan...
Aku selalu benci hujan.
Tidak,
Aku tidak akan kalah kali ini
Aku tidak akan bersembunyi lagi
Aku akan menghadapinya
Ayo kita lihat, sakit macam apa lagi yang akan ditawarkannya?
Luka seperti apa yang akan dilukisnya kali ini?
Aku semakin terbiasa menghadapi perih
Mungkin aku akan tetap berdiri tegak bila sebilah pisau menancap perutku saat ini
Asam-garam? Apa yang kamu ketahui tentang itu? Hidup punya lebih dari sekedar asam dan garam saja!
Tetesan air yang pertama menyentuh hidungku
Dia datang...
Aku telah menantinya sejak tadi, bersama dengan para pencintanya yang menyebut diri sebagai pluviophile...
Pluviophile?
Pencinta hujan? Yang benar saja!
Kau bilang kau suka hujan, tapi kau berteduh ketika hujan datang
Kau bilang kau menikmati saat-saat hujan turun, tapi kau takut kebasahan
Pluviophile?
Kau hanya ingin terlihat romantis!
Pluviophile?
Kau hanya ingin disebut puitis!
Pencitraan...
Kini butir-butir itu berlipat ganda
Menghujam tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki
Berkali-kali
Aku menatap langit, membentangkan tanganku, membiarkan air hujan menciptakan sensasi yang akan selalu kuingat
Dimana rasa perih, amarah dan puas bercampur menjadi satu
Aku berlutut, seiring dengan semakin derasnya butiran-butiran hujan
Aku jatuh, dan hujan semakin bebas membasahi tiap inci tubuhku
Aku menutup mata, dan bayangan-bayangan itu muncul lagi
Kenangan-kenangan yang selama ini kusimpan rapat di alam bawah sadarku
Aku berusaha melupakan semuanya, namun memori-memori itu tak pernah benar-benar pergi
Mereka hanya sembunyi, menunggu hujan datang untuk membawaku kembali pada saat-saat itu
Aku benci hujan...
Aku selalu benci hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar